Sebuwah Anomali : Kenapa Logika Berpikir Kritis Jadi "Barang Mewah" Para Gen Z??
I'm writing this karena abis terpana-terpukau-terpesona sambil pengen jedotin kepala setelah melihat 4 cycles intern di kantor.
Mahasiswa semester tengah yang sedang menjalani internship ini keknya punya karakteristik intelegensia yang hampir mirip... ancur-ancuran masyallah!
Sefruit konteks :
1. Mayoritas intern ini datang dari universitas swasta ternama : Atmajaya, Binus, dan I3L punya Kalbe di Pulomas. Bukan univ kaleng-kaleng dari antah berantah, ya kan?
2. Jurusan anak-anak intern ini kebanyakan dari Teknologi Pangan, makanya bisa magang di flavorhouse, di lab product development pula.
Jurusan yang seharusnya "mewajibkan" mahasiswanya punya kemampuan nalar, logika dan kemampuan kognitif jauh di atas rata-rata IQ WNI. Susah bok itu mata kuliahnya. Jaman gw kuliah dulu, TekPang ini jurusan idola, cita-cita dan kebanggaan. Kalo udah masuk TekPang, silahkan jumawa. Isinya orang pinter semua, masuknya pake jambak-jambakan, minimal jago Matematika, Fisika, Kimia dan gak bisa pilih salah satu, harus jago tiga-tiganya. IPK di bawah 3.5? Haram Hukumnya!
3. Mereka internship di Lab aplikasi product development. Yang sangat amat relevan dengan jurusan mereka.
4. Gw mengobservasi para Gen Z, dari Gen Z angkatan awal : yang lahir di medio 1997 - 2002 dan Gen Z lapis dua yang lahir tahun 2003 ke atas. Gen Z angkatan awal ini banyak ketemu sebagai colleagues atau anak buah gw di companies sebelumnya. Entah kenapa, temuannya adalah Millenials masih bisa kerja bareng dengan minim konflik dengan para Gen Z angkatan awal ini, terutama yang lahirnya tahun 2000 ke bawah.
5. Tapii...untuk GenZ lapis dua kelahiran 2003 ke atas, yang seharusnya sekarang paling tua udah umur 23 tahun, dan para interns ini masuk ke dalam range Gen Z lapis dua ini.
NAH MEREKA INILAH YANG GW LIAT SUNGGUH ANOMALI..
Keliatannya cuma mo denger bagian yang mereka "pengen denger aja", short attention span, maunya "dikasi tau aja jadinya gimana"
Yang paling bikin gw mangap : entah logika berpikir kritisnya diarahkan ke sebelah mana....
Pada hakikatnya, tujuan internship pastinya mencocokkan apa yang dipelajari di kelas dan praktik lab dengan kejadian di Industri, Tujuan kuliah / pendidikan tinggi : menurut gw bukan untuk "cari kerja" doang, tapi bagaimana kita bisa belajar dan cari tahu caranya untuk mengasah pola pikir, berpikir taktis dan problem solving.
Yang terjadi adalah ... jeng jeng...
Gw selalu menanyakan satu hal yang sama untuk semua intern
"Apa project yang kamu lakukan dan kenapa kamu melakukan atau memilih project ini?"
Simple yet basic question.
Untuk tahu cara mereka berpikir, runut atau tidak, logicnya jalan apa ngga, nyambung ga antara keilmuan dengan apa yang mereka praktikkan dan temukan di dunia nyata, dalam hal ini dunia kerja.
Kebanyakan jawabnya gelagapan... padahal super duper basic question.
Tapi yang paling gong kemaren adalah seorang Intern yang lagi bikin sugar reduction exercise dengan pengurangan gula 20% untuk produk kopi instan 3-in-1.
Gw tanyain dong super duper basic question itu ya :
kenapa lu milih topik ini : sugar reduction?
kenapa yang dipilih profile kopi sachet Indocafe?
kenapa harus dikurangi 20% kandungan gulanya.
Jawabannya singkat, padat dan super bangsat :
DISURUH SAMA PAK ARES, BU.
LHO KOK GITU JAWABANNYA??! Kepala gw auto nyut-nyutan, tepok jidat!
Siapa Pak Ares yang dijadikan kambink hitam ini?
Beliau ada supervisor mereka selama internship. Super duper senior application. Dijamin seorang mentor yang hebat. Gak kaleng-kaleng.
Gw sangat yakin Pak Ares pasti mengelaborate project internship ini. Bukan sekedar nyuruh - nyuruh. Kalaupun otaknya jalan, intern ini pasti bisa memahami dong basicnya apa.
Dan tipe jawaban "robot" ini adalah jawaban yang juga gue temukan di 3 siklus internship sebelumnya.
Antara goblok (di mana gw sungguh ga yakin ada orang yang bener-bener goblok) atau ada faktor lain?
Dengan jidat lipet 8 - nambah-nambah kerutan jidat aja - gw nanya balik dong
"Kalo lu disuruh masuk jurang sama Pak Ares, lu lakuin juga? Gak pake mikir?"
Sungguh aku terkedjoet karena si intern ini malah defensif banyak alasan ketika gw bantu probing, elaborate lagi projectnya supaya dia bisa menarik kesimpulan dari projectnya.
Amit-amit yang kayak gini jadi generasi emas tae kocheng 2045!
Untung aja anak-anak orang kaya lu semua, ketolong ama orang tua aman finansial, jadi idup lu ya terjamin lah buat beberapa tahun ke depan setelah lulus kuliah. Kerjaan dicariin Bokap palingan.
Coba kalau pada gak punya duit!
Logika transaksional: asal tugas kelar, nilai keluar, tanpa mau tahu the "Why" di balik sebuah instruksi.
Padahal di industri flavor/R&D, rasa penasaran (curiosity) dan sense of purpose itu modal utama biar aplikasi produknya gak gagal.
Gak usah pake embel-embel kerja dan industri deh. Gak ketipu scammer aja udah untung ni bocah-bocah anomali.

Komentar
Posting Komentar
Hai terimakasih udah blogwalking ke sini. Let me know your opinion here. Cheers :)